Aoh K. Hadimaja

Penyair dan pengarang dalam bahasa Indonesia. Ia lahir di Bandung, tanggal 15 September 1911 dan meninggal di Jakarta tanggal 3 Maret 1972. Pendidikan umum di zaman Belanda: ELS dan Mulo; melanjutkan ke NIAS; baru tahun pertama keluar, seterusnya berpindah-pindah bekerja. Mula-mula di sebuah percetakan di Palembang (1933), setahun kemudian pindah ke bank, pindah lagi ke perkebunan karet Parakan Salak milik Belanda di Sukabumi sebagai employee (1936) sampai kedatangan Jepang (PD II). Ia pernah dirawat di Sanatorium. Semasa dalam perawatan inilah ia mulai menulis sajak untuk Pujangga Baru (Poedjangga Baroe).

Sampai usia dua puluhan benar-benar tak nampak bahwa kelak ia akan menjadi penyair atau pengarang bila dilihat liku-liku hidup yang ditempuhnya. Beruntung selama dirawat di rumah sakit, ia berkesempatan membaca buku-buku terutama karya sastra seperti roman dan novel. Saat itulah karya sastra bangsa sendiri karangan-karangan Hamka (yang dianggapnya sebagai gurunya) sangat mengesankan baginya. Ketertarikan pada karya-karya Hamka berkaitan dengan penderitaannya selama sakit. Ia bertempur dengan maut selama dua tahun. Pengalaman ini diekspresikannya dalam sajaknya yang berjudul Madah Kemenangan. Di zaman Jepang ia bekerja pada Keimin Bunka Shidosho (Kantor Pusat Kebudayaan), tempat bergabungnya para sastrawan, seniman dan budayawan seperti Armijn Pane, Usmar Ismail, Inu Kertapati, dan lain-lain. Ia bekerja terutama sebagai penerjemah. Hasil terjemahannya antara lain cerita pantun Sunda Mundinglaya di Kusumah ke dalam bahasa Indonesia. Setelah kemerdekaan ia bekerja di Balai Pustaka, tapi tak lama. Tahun 1950-1952 ia berada di Sumatera, ketika di Medan ia menjadi redaktur Mimbar Umum. Tahun 1952-1956 berada di Negeri Belanda, bekerja sebagai penerjemah di Sticusa (Stichting voor Culturule Samenwerking, Yayasan untuk Kerjasama Kebudayaan) di Amsterdam, kemudian menjadi penyiar radio Hilversum. Tahun 1957 menjadi wartawan PIA dan Starweekly. Tahun 1959-1970 menjadi penyiar BBC London.

Terakhir menjadi Redaktur Badan Badan Penerbit Pustaka Jaya di Jakarta. Kematangannya sebagai penyair tampak dalam karya puisinya berjudul Pecahan Ratna dan Di Bawah Kaki Kebesaran-Mu, yang dipublikasikan untuk pertama kalinya di majalah Panca Raya (Panctja Raja). Tahun 1952 kedua karya puisi itu diterbitkan dalam satu kumpulan dengan lakon dramanya dan diberi judul Lakbok, 1971 judul kumpulan itu dirubah menjadi Pecahan Ratna. Cerita-cerita pendek yang ditulisnya di masa revolusi diterbitkan dengan judul Manusia dan Tanahnya (1952); sebagai hasil pengembaraannya di Sumatera terbit Beberapa Paham Angkatan'45 (1952). Selama di Eropa menghasilkan Seni Mengarang (1972), Aliran Klasik, Romantik dan Realisme dalam Kesusasteraan (1972), Poligami (1975), dan Terhamparlah Darat yang Kuning dan Laut yang Biru (1977). Manusia Terasing (1977) adalah roman yang ditulisnya di dekat saat menjelang wafatnya. Tahun 1972 mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah RI.