ANGKATAN '66

Nama ciptaan kritikus sastra Indonesia, RB. Jassin, diberikan kepada sejumlah sastrawan yang menulis sajak-sajak perlawanan pada tahun 1966 dan sastrawan dari masa sebelumnya yang memiliki suatu kesadaran yang sama Penamaan angkatan sastra ini dilakukan H.B. Jassin dalam tulisannya di majalah Horison, bulan Agustus 1966. Adapun para sastrawan yang menulis sajak-sajak perlawanan terhadap rezim Orde Lama adalah Taufik Ismail, Mansur Samin, Slamet Sukirnanto, dan Wahid Situmeang. Sedangkan para sastrawan yang digolongkan ke dalam angkatan ini namun berasal dari masa sebelumnya adalah Ajip Rosidi, W.S. Rendra, Jusach Ananda, A. Bastari Asnin, Hartoyo Andangdjaja, Goenawan Mohammad, A.A. Navis, Djamil Suherman, Bokor Hutasuhut, dan Suwardi ldris. Dalam karya-karya mereka, para sastrawan ini menentang tirani dengan segala akibatnya, seperti penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, merajalelanya komunisme, jauhnya perbuatan dengan perkataan, dan disingkirkanya Pancasila dan demokrasi. Kesadaran ini tidak hanya terdapat pada tahun 1966, yang memang merupakan puncak reaksi, tetapi sudah ada sejak zaman para sastrawan tahun 1945 dan 1955, sehingga mereka ini dapat juga digolongkan dalam Angkatan 66.