ANGKATAN '45

Nama Angkatan dalam sastra yang diberikan kepada para sastrawan yang muncul pada permulaan tahun 1940-an, di Jakarta, yakni pada zaman Jepang, zaman Revolusi dan zaman awal tahun 1950-an. Penamaan itu meliputi para sastrawan seperti Chairil Anwar, Asrul Sani dan Rivai Apin, yang dianggap sebagai pelopor dan pencetus gagasan sastra baru yang "menilai" kembali angkatan sastra sebelumnya, yakni Angkatan Pujangga Baru. Para sastrawan lain adalah Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Usmar Ismail, Mochtar Lubis, Achdiat Kartamihardja, Trisno Sumardjo, Rustandi Kartakusuma, Utuy Tatang Sontani, Sitor Situmorang dan lain-lain. Istilah "Angkatan 45" berasal dari Rosihan Anwar yang menulis tentang hal tersebut dalam majalah Siasat, 9 Januari 1949. Sebelum nama itu dipakai, angkatan tersebut diberi berbagai nama, seperti Angkatan Kemerdekaan, Angkatan Chairil Anwar, Angkatan Sesudah Perang, Angkatan Sesudah Pujangga Baru, Angkatan Pembebasan, dan Generasi Gelanggang.

Konsep seni angkatan ini dituangkan dalam "Surat Kepercayaan Gelanggang" yang tertanggal 18 Februari 1950, setahun setelah meninggalnya Chairil Anwar, tokoh yang paling menonjol dalam angkatan ini. Dalam konsep tersebut antara lain disebutkan bahwa "Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli, yang pokok adalah manusia. Dalam caranya mencari, membahas dan menelaah kami membawa sifat sendiri". lnilah sebabnya angkatan ini amat mementingkan ekspresi pribadi sehingga sering disebut beraliran ekspresionisme. Pernyataan ini pula yang menyebabkan angkatan ini bersifat "humanisme universal". Seperti halnya angkatan sastra lain, hal-hal itu hanyalah dasar-dasar persamaan konsep penciptaan saja, sedangkan perbedaan-perbedaan konsep seni secara perorangan tetap muncul.