Andries Brandes, Jl

Lahir di Rotterdam pada tanggal 13 Januari 1875. Brandes banyak berjasa dalam lapangan ilmu pengetahuan, khususnya mengenai masa lampau Indonesia. Meninggal di Batavia 26 Juni 1905 pada saat ia menduduki jabatan ketua di Comissie Voor Oudheidkunding Onderzoek of Java an Madura, maupun sebagai anggota direksi pada Bataviaasch Genootschap Van Kunsten Un Wetenscahppen. Semula Jan Laurens Andries Brandes mengikuti kuliah ilmu agama. Setelah lulus dalam ujian tingkat doktoral pada Fakultas Theologi, Brandes pindah ke Leiden untuk belajar bidang ilmu kesusastraan di Hindia Belanda.

Sebagai mahasiswa yang tekun ia menyelesaikan studinya, dan pada tanggal 3 Juni 1884 lulus dengan disertasi berjudul "Pijdrage. Tot de Vergelijbende Klablean der Wittercche Af deJing van de Malessch, Palynesis Che taal Famillie "di bawah asuhan guru kelasnya, yaitu Veth. Akhirnya Brandes dapat lebih memperdalam pengetahuannya dalam bahasa Jawa dan tulisan Jawa.

Brandes menetap beberapa waktu di Bali di bawah asuhan Van der Tuuk, kemudian pindah ke Batavia, di mana museumnya layak sekali memiliki koleksi tulisan Jawa Kuno. Ia mempergunakan kesempatan ini untuk belajar sejarah Jawa dalam arti yang seluas-luasnya, meliputi sejarah bahasa dan kesusastraan dengan belajar secara terus menerus dan membandingkan (membedakan) secara tegas bahasa Jawa dalam tiga babakan (periodisasi), yaitu bahasa Kawi (Jawa Kuno), bahasa Jawa Pertengahan dan bahasa Jawa Baru. Ia pun telah mengadakan perbandingan-perbandingan serta menghubung-hubungkan bahasa Melayu dan Bali, hingga Brandes dapat mensejajarkan diri dengan guru-gurunya, Kern dan Van der Tuur.

Brandes selalu tampil dalam pemikiran yang gemilang meskipun pemikirannya tersebut perlu mendapat perhatian dan penelitian lebih mendalam lagi, setidaknya ia telah melemparkan sejumlah masalah dalam kepurbakalaan di Indonesia untuk mencari pemecahannya. Salah satu konsep pemikiran Brandes adalah ia mengintridusir bahwa telah ada 10 anasir kebudayaan Indonesia Asli sebelum kedatangan pengaruh Hindu (asing), anasir-anasir kebudayaan itu adalah permainan wayang kulit, gamelan, metrik asli Batik pengolahan logam, penggunaan mata uang, ilmu falak, sistem persawahan dan tata masyarakat yang teratur.