Andjar Asmara

Penulis sandiwara dan sutradara film, lahir di Alahan Panjang, 26 Februari 1902. Sebelumnya pernah menjadi wartawan dan pernah memimpin surat kabar Doenia Film (1929-1932). Tahun berikutnya masuk dalam dunia sandiwara dengan bergabung dalam Dardanella. Menjadi sutradara film sejak Kartinah (1940), Djauh Dimata dan Anggrek Bulan (1948), serta Gadis Desa (1949). Intelektual muda Minang ini sebenarnya bernama Abisin Abbas lahir pada tanggal 26 Pebruari 1902 di Alahan Sumatra Barat, meninggal pada tangal 20 Oktober 1961.


Tulisannya mulai dimuat pada majalah Bintang Hindia pimpinan Parada Harahap, dan harian Oetoesan Melayoe. Kemudian pindah ke Medan dan memimpin harian Sinar Deli, menjadi anggota Redaksi harian Sinar Soematra. Setelah itu kembali ke Jakarta, memimpin majalah Doenia Film, sebuah penerbitan pengusaha Belanda yang terletak di Jl. Pecenongan, kemudian keluar dan tertarik pada perkumpulan sandiwara Dardanella pimpinan Piedro, seorang berkebangsaan Rusia. Tahun 1937 mendirikan kelompok baru dengan nama "Bolero". Menjelang pecahnya perang Pasifik, Andjar memimpin majalah tengah bulanan Poestaka Timoer, yang diterbitkan Kolff-Bunning. Pada zaman Jepang ia mendirikan lagi rombongan sandiwara Tjahja Timoer. Setelah proklamasi, aktif lagi dalam bidang pers, dengan menerbitkan harian Perjoeangan Rakjat yang beralamat di Purwakarta, majalah hiburan Varia yang diterbitkan di Jakarta, sebagai Pemimpin Redaksinya dibantu oleh Raden Ariffin.


Dalam bidang sandiwara Andjar Asmara, tidak menyukai sistem bintang (Star System) , dan lebih mengutamakan kepribadian sang calon pemain dalam memilih seorang pemain. Hasil-hasil karyanya: Kartinah dan Noesa Penida berupa cerita yang diumumkan dan ditulis sebagai kisah dalam harian Asia Raya. Kartinah dijadikan film pada Java Industrial Film tahun 1941, Dr. Samsi, ditulis 1930 di Medan, dipentaskan di atas tonil Dardanella dan Bolero sampai sekitar 1000 kali dan disiarkan sebagai kisah dalam majalah "Dadarnella Revue" tahun 1931. Lima tahun kemudian, 1936, dijadikan film di Calcutta, dan Noesa Penida difilmkan pada Java Industrial Film. Rencong Aceh dipertunjukkan oleh sandiwara lain dengan judul Kris Bali (1931 di Sibolga), Haida, dipertunjukkan oleh rombongan lain dengan judul Boven Digoel (1931) di Padang, Gadis Desa, dipertunjukkan dengan kalimat Lintah Darat dan Gadis Gunung oleh rombongan lain, ditulis tahun 1932 di Semarang. Sampai akhirnya ia memperoleh surat pujian dan penghargaan tertinggi dari pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atas tulisan tulisannya yang banyak mengandung saran-saran yang dimuat dalam majalah Varia, maupun saran-saran yang langsung diberikan secara lisan.


Di masa pendudukan Jepang, mendirikan grup sandiwara Matahari. Di Yogyakarta (1946-1947) memberikan ceramah dalam kelompok diskusi. Bekerja untuk SPFC (South Pasific Film Corporation). Memimpin penerbitan Gapura yang mengeluarkan buku-buku serial Roman Lajar Putih. Tahun 1950 memimpin majalah Varia, hingga wafatnya.