ANCOL

Kawasan yang terletak di sebelah timur Kota Tua Jakarta, sampai batas kompleks Pelabuhan Samudra Tanjung Priok. Kawasan Ancol tersebut dijadikan sebuah kelurahan dengan nama yang sama, termasuk wilayah Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Ancol mengandung arti "tanah rendah berpaya-paya". Dahulu, bila laut sedang pasang air payau, kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah sekitarnya sehingga terasa asin. Wajah bila orang-orang Belanda zaman VOC menyebut kawasan tersebut sebagai Zoutelande, "tanah asin", sebutan yang juga diberikan untuk kubu pertahanan yang dibangun di situ pada tahun 1656 (De Haan 1935:103-104). Untuk menghubungkan kota Batavia yang pada zaman itu berbenteng dengan kubu tersebut, sebelumnya telah dibuat terusan, yaitu terusan Ancol, yang sampai sekarang masih dapat dilayari perahu. Kemudian dibangun pula jalan sejajar dengan terusan.

Di kawasan ini dibangun pusat rekreasi laut yang cukup ternama di Jakarta, yakni Taman Impian Jaya Ancol. Dahulu merupakan daerah rawa-rawa, empang, dan pemukiman nelayan yang dikuasai oleh pihak Angkatan Laut. Daerah seluas 585 ha ini menurut Gubernur Saemarno, lebih cocok dikembalikan untuk daerah rekreasi laut, perumahan, industri dan perdagangan, kemudian daerah ini berhasil diambil alih oleh Pemerintah daerah Jakarta dari pihak AL, dengan kompensasi Pemda Jakarta menyediakan lahan di sebelah timur Tanjung Priok untuk pihak AL. Untuk menguatkan kebijakan pembangunan Ancol dikeluarkan Keputusan Gubernur 23 Desember 1960, dengan dibentuknya Panitia Perencanaan Pembangunan Ancol, meski pada tahun selanjutnya proyek ini sempat terhenti karena krisis politik akibat pemberontakan G30S/PKI. Pada masa selanjutnya pembangunan Ancol dilanjutkan kembali pada tahun 1967, bekerjasama dengan PT Pembangunan Jaya yang dibentuk Ali Sadikin.