Ancol, Klenteng

Tempat pemujaan 'kombinasi' yang bercorak Taois dengan gaya khusus. Klenteng ini dikaitkan dengan makam seorang Islam yang dianggap keramat dan sekaligus menjadi tempat pemujaan orang Tionghoa maupun pribumi. Klenteng Ancol ini dalam bahasa Tionghoa disebut Da-bo-gong miao atau Klenteng Da-bo-gong. Ciri khas klenteng ini merupakan tempat keramat ganda. Di dalam klenteng ini orang-orang Tionghoa tidak boleh membawa daging babi ke dalam pekarangannya, meskipun mereka paling suka daging babi. Dan satu jenis makanan lagi yang dilarang yakni jengkol dan petai. Apabila seseorang membawa kedua jenis makanan tersebut ke dalam klenteng maka yang melanggar akan terserang sakit perut hebat.

Klenteng yang dipersembahkan kepada Da-bo-gong dan istrinya (dewa tanah/Fude zheng-shen), letaknya harus jauh di luar tembok kota, di suatu tempat yang pada waktu itu tak berpenghuni. Klenteng Ancol telah mampu melepaskan diri dari cengkeraman oligarki Gong-guan. Upacara agama bukan lagi hak golongan elit, melainkan suatu kultus kerakyatan yang mudah menyesuaikan diri dan terbuka dengan pengaruh setempat. Di Klenteng Ancol juga masih diselenggarakan upacara pu-du.