Anak Ambar

Kepercayaan dalam masyarakat Betawi tentang arwah atau roh anak kecil yang sudah meninggal dan dipelihara, sewaktu-waktu dapat menjelma. Roh yang dipelihara sebagai anak ambar tersebut disebut ruh el kawakib, merupakan roh anak yang meninggal sebelum akil baligh, atau anak yang lahir mati, atau mati dalam kandungan, atau mati keguguran. Dengan demikian ia harus dipelihara oleh orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Kata ambar berasal dari bahasa Sanskrit yang artinya "menghilang". Tradisi memelihara anak ambar juga dikenal dalam masyarakat keturunan Cina, tetapi dasar falsafahnya berbeda. Orang Cina memelihara anak ambar untuk mendapatkan hokkie, keberuntungan. Sedangkan orang Betawi memelihara anak agar demi menjaga keseimbangan spiritual.

Pada tradisi Betawi anak ambar diberi nama dan dipanggil seolah-olah yang bersangkutan masih hidup. Dahulu juga ada orang yang merawat anak ambar tersebut dengan membuat kelambu kecil dalam pangkeng sebagai tempat tidumya, pakaian, dan kadang-kadang sepatu, dalam bentuk mini. Anak ambar dapat diminta bantuannya untuk pengorbanan. Sedangkan pada Cina peranakan tradisi itu "diperkaya" dengan memberinya sepatu dan busana mini. Kemudian pada malam-malam tertentu, terutama hari atau malam kematiannya akan disediakan sajen berupa pisang raja, telur ayam, dan air putih. Namun seiring perkembangan zaman anak ambar ini sudah tidak dikenal lagi keberadaannya, terutama dalam tradisi Betawi.