AMIR PASARIBU

Perintis musik serius modern Indonesia, lahir di Siborong-borong, Sumatera Utara, 21 Mei 1915. Hidup seangkatan dengan tokoh musik Indonesia seperti C. Simanjuntak, Binsar Sitompul, dan RAJ Sujasmin. Seorang tokoh musik dari masa awal kemerdekaan RI, yang memenuhi kriteria untuk disebut sebagai intelektual, pemikir, ahli, seniman sekaligus pedagog. Tulisan-tulisannya memperlihatkan bahwa ia sebagai seorang jujur dan berani. Ketika mempersoalkan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang disebut-sebut sebagai karya plagiat.

Sebagai eseis, menulis di sejumlah media seperti Siasat, Mimbar Indonesia, Aneka, dan Zenith. Ia seorang polyglot yang menguasai 12 bahasa. Setelah namanya sempat disebut-sebut dalam satu rencana pendirian konservatori, tetapi berikutnya malah menghilang, lalu orang pun tahu ia meninggalkan Indonesia dan bermukim di Suriname selama 30 tahun. Setelah terpaksa meninggalkan Tanah Air untuk sementara waktu, Pasaribu lalu kembali ke Tanah Air. Pada peringatan hari Kemerdekaan Agustus 2002, Amir Pasaribu menerima anugerah dari Presiden RI, yakni Satya Lencana Kebudayaan  Budaya Parama Dharma.

Ia memang tidak seterkenal nama-nama di atas, sebab sebagian besar ciptaanya berbentuk komposisi instrumental, seperti untuk piano tunggal, piano-biola, piano-selo, ansambel gesek, paduan suara dan orkes. Karyanya seperti Capung Kacimpung di Cikapundung dan Ole-ole Meloyo-loyo, karya yang berkisah tentang kelincahan seekor capung dan bagaimana lonceng sapi bergerak berirama dari kejauhan dan kemudian mendekat. Untuk menghormati perhatiannya kepada pemikiran musik Indonesia, namanya diabadikan sebagai nama Concert Hall di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM) di Bintaro Jaya, Tangerang.