Ambtenaar

Sebutan untuk pegawai negeri pada zaman Belanda, berpakaian jas putih-putih, topi helm keras seperti topi baja dan pergi serta pulang kerja naik sepeda. Jabatan ini menjadi impian dari kebanyakan anak-anak pribumi, karena dipandang bahwa kehidupannya terjamin. Pegawai pemerintah Batavia terdiri dari penduduk pribumi pendatang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka kebanyakan tinggal di perkampungan di pinggir kota seperti di Kemayoran, Tanah Tinggi, Menteng Dalam, dan Tanah Abang. Di kampung ini juga tinggal penduduk Betawi asli, bercampur dengan para pendatang.

Namun pada tahun 1929 ketenangan hidup para ambtenaar terguncang dengan kondisi ekonomi yang serba susah. Perdagangan macet, banyak perusahaan onderneming tutup, karena terkena dampak zaman maleise dari Eropa, yang terjadi sesudah perang. Banyak pegawai yang diberhentikan. Kekalutan ini berlarut sampai tahun-tahun berikutnya, dan pada puncaknya pada tanggal 26 Desember 1932 ribuan ambtenaar melakukan demonstrasi di Batavia. Mereka menuntut kenaikkan gaji dan penurunan harga. Menurut kabarnya, demonstrasi ini berjalan tertib sehingga pemerintah tidak sampai mengirimkan tentara KNIL untuk membubarkan demonstrasi tersebut.