Amatir, Radio

Pada tahun 1930, pada masa pemerintahan Hindia Belanda amatir radio telah membentuk organisasi yang menamakan dirinya NIVERA (Nederland Indische Vereniging Radio Amateur) yang merupakan organisasi amatir radio pertama. Pada periode 1933-1943, seorang anggota bumiputera NIVERA mendirikan Solosche Radio Vereniging yang disusul anggota bumiputera NIVERA lainnya dengan mendirikan organisasi sejenis seperti MARVO, CIRVO, VORO, VORL dan lainnya. Di tahun 1937 lahirlah Persatoean Perikatan Radio Ketimoeran (PPRK).

Pada akhir tahun 1945 sudah ada sebuah organisasi yang menamakan dirinya PRAI (Persatoean Radio Amatir Indonesia). Dan pada periode tahun 1945-1949 banyak para amatir radio muda yang membuat sendiri perangkat radio transceiver yang dipakai untuk berkomunikasi antara Pulau Jawa dan Sumatera di mana Pemerintah Sementara RI berada. Di antara tahun 1945-1950, amatir radio juga banyak berperan sebagai Radio Laskar. Pada periode 1966-1967, di berbagai daerah terbentuklah organisasi-organisasi amatir radio seperti: PARD (Persatuan Amatir Radio Djakarta), PARE (Persatuan Amatir Radio Bandung), PARJ (Persatuan Amatir Radio Jogjakarta).

Tahun 1967, Ketua Dewan Telekomunikasi Republik Indonesia, Dr. Rubiono Kertopati memanggil amatir radio Indonesia untuk mendapatkan masukan guna merumuskan Peraturan Pemerintah (PP) tentang kegiatan amatir radio di Indonesia. Pada tanggal 30 Desember 1967 dikeluarkan PP No. 21 tahun 1967 tentang Radio Amatirisme di Indonesia. Tanggal 9 Juli 1968, berdirilah ORARI (Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia) yang dijalankan sesuai dengan Surat Keputusan Dewan Telekomunikasi RI No. 004/1968. Pada tanggal itu juga AD/ART ORARI disahkan. Selanjutnya tanggal tersebut dinyatakan sebagai hari lahir ORARI dan hari amatir radio Indonesia.