ALFIAH

Orang Betawi menyebutnya sesuai dengan dialeknya alpie. Jenisnya ada dua macam, pendek dan agak tinggi, contohnya adalah yang dipakai oleh Teuku Umar dan Panglima Polim. Modelnya agak lebih tinggi sedikit dari alfiah yang dipakai oleh pengantin pria Betawi. Alfiah ini kemudian dililiti kain putih dalam bahasa Arab disebut "Amanah," orang Belanda mengatakan verband atau tulband, orang Betawi mengatakannya sorban. Alfiah ini mulanya berasal dari Turki, terbuat dari karton tebal yang dibentuk sedemikian rupa kemudian ditutup dengan hiasan kain berwarna-warni dengan cara dianyam. Alfiah ini masuk ke daratan semenanjung Aceh melalui para bangsawan Arab yang saat itu tengah mengadakan hubungan dengan para pejuang yang sedang melawan penjajah Belanda.

Alfiah yang dipakai pengantin Betawi merupakan pakaian kebesaran para kaum bangsawan dan cendekiawan, karena sudah terliliti amanah atau yang dikenal sorban. Sorban itu merupakan tanda wisuda bagi seorang yang telah memenuhi syarat di dalam menuntut ilmu, yang dilanjutkan dengan pemakaian jubah sebagai perlambang pengukuhan, juga merupakan pakaian kebesaran sebagaimana dapat dilihat dalam acara wisuda perguruan tinggi saat ini.