Alam Suryawijaya

Sutradara, pemain film. Lengkapnya Alam Rengga Rasiwan Kobar Surawijaya, kelahiran Sindanglaut, Cirebon, 24 Desember 1924 dan meninggal di Jakarta, 12 Mei 1980. Berpendidikan Cine Drama Institut Kementrian Penerangan, Yogyakarta, pada masa revolusi setelah menamatkan Sekolah Menengah Tinggi Tehnik. Kariernya diawali dengan bermain dan menyutradarai pementasan-pementasan perkumpulan sandiwara Raksi Seni Yogyakarta, selain mengisi siaran Pancaran Sastera di RRI Yogyakarta. Karir di film diawali dengan jabatan asisten sutradara penuh dalam Manusia Suci (1955) dan Daerah Tak Bertuan. Sejak film Sehelai Merah Putih tahun 1960-an, Alam dikenal sebagai sutradara film epos perjuangan dengan karya-karya garapannya Perawan di Sektor Selatan (1972), Bandung Lautan Api (1975), dan Janur Kuning (1979) tentang Serangan Umum 1 Maret yang seringkali ditayangkan TVRI. Film lainnya Nyi Ronggeng (1970), meskipun tidak benar-benar berhasil, namun ada upaya dari sutradara untuk berbicara dalam bahasa gambar tentang kehidupan etnis Sunda (film tersebut dibuat di Sumedang dan sekitarnya).

Sebagai pemain ia muncul dalam film Menyusuri Jejak Berdarah (1967), Si Bongkok (1972), Cinta Pertama (1973), Perkawinan Dalam Semusim (1977) dan dua film yang dibuat tahun 1970 Si Buta dari Gua Hantu (Lilik Sudjio), serta Matinya Seorang Bidadari (Wahyu Sihombing). Mungkin karena penampilannya amat sederhana, brewok bertampang lusuh dengan gaya bicara yang lamban dan perlahan, peran-peran yang dimainkan Alam biasanya orang-orang kecil yang serba kekurangan. Sincas yang pernah menjadi anggota Dewan Produksi Film Nasional, dan Dewan Kesenian Jakarta ini dalam kebanyakan film garapannya sering menggunakan Dicky Zulkarnaen sebagai pemain utama. Isterinya, Deliana Surawijaya alias Kak Yana yang giat melatih dan menyelenggarakan pementasan drama anak-anak, juga pemain film.