Air Mancur Monas

Setelah dibangun pada tahun 1974, air mancur Monas lama tidak beroperasi dan dibiarkan dalam kondisi kotor dan tidak terawat. Tahun 2004 Gubernur Sutiyoso menghidupkan kembali air mancur Monas dengan dilengkapi sinar laser pada tampilan hiburan water screen. Sebagai taman kota terbesar di Asia Tenggara dengan luas mencapai 100 ha, Air Mancur Monas yang merupakan bagian penting dari Taman Monumen Nasional, diharapkan dapat membangkitkan nilai sosio historis, citra kota, social entertainment, dan nilai wisata.

Menggandeng pihak swasta proses renovasi berlangsung selama tiga bulan, menelan biaya Rp 26 miliar. Karena tidak menggunakan APBD dalam pembangunannya, Pemerintah Provinsi DKI memberikan kompensasi berupa 31 titik reklame kepada perusahaan tersebut. Proses pengerjaannya mencakup pekerjaan sipil, mekanikal dan elektrikal, lanskap, pekerjaan air mancur, sistem laser, jasa-jasa pendukung, penambahan daya listrik.

Dibangun dengan empat tribun dan dua plasa di atas areal 3,2 ha, taman air mancur Monas diperkirakan dapat menampung lebih dari 1.000 orang. Daya listrik sebesar 1,6 Mega Watt, digunakan untuk menggerakkan 321 nozzle, 41 pompa, 717 set lampu bawah air. MIB menggunakan jasa OASE, sebuah perusahaan aqua media system/musical fountain asal Jerman, untuk menampilkan keindahan air mancur dalam 14 konfigurasi. Untuk semakin menambah keindahan, taman Monas pun menggunakan permainan lighting, dalam balutan cahaya merah, bim, hijau, dan ungu silih berganti yang menyinari baik permainan air mancur, maupun fisik tugu Monas.