Agus Salim, Haji

Cendikiawan dan pemimpin Islam yang berpengaruh. Lahir di Kota Gadang (Sumatera Barat), 8 Oktober 1884. Ia seorang poliglot yang menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Jepang, dan Turki. Dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden RI Sesudah tamat HBS (Hoogere Burger Schoof) memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sendiri secara otodidak. Bekerja pada Konsulat Belanda di Jeddah (1906-1911), sambil memperdalam pengetahuannya tentang Islam dan seluk beluk diplomasi internasional. Duduk sebagai anggota pimpinan Sarekat Islam; juga anggota Volksraad. Karena terdapat pertentangan faham dalam pimpinan PSII, membuat Barisan Penyadar PSII (November 1936) yang kemudian menjelma menjadi Partai Penyadar yang dipimpin oleh H. Agus Salim-Sangaji. Aktif dalam Pan Islam, karena cita-citanya ingin mempersatukan umat Islam seluruh dunia. 1931, ikut serta sebagai penasihat teknis delegasi Verbond van Vakvereenigingen (NVV) dalam Konferensi Perburuhan Intemasional di Jenewa.

Sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, Haji Agus Salim ikut aktif khususnya dalam bidang diplomasi. Juni 1946 - Juli 1947, menjabat sebagai Menteri Muda Luar Negeri; (Juli 1947-Desember 1949), sebagai Menteri Luar Negeri; memimpin delegasi RI ke Inter-Asian Relation Conference di New Delhi (India, 1947), dan wakil RI di UNO. Mengunjungi negara-negara Arab, untuk mendapatkan pengakuan dengan cara menyebarkan cita-cita revolusi Indonesia, sehingga Mesir mengakui RI (10 Juni 1947). Tanggal 19 Desember 1948, sewaktu Yogyakarta diserbu oleh Belanda, ia ikut ditangkap bersama dengan Presiden Soekarno dan lain-lain, dan diasingkan ke Berastagi, kemudian Prapat dan Bangka. Setelah pengakuan kedaulatan (akhir 1949), ia aktif dalam bidang pendidikan, walaupun masih juga menjalankan tugas sebagai penasihat Pemerintah RI. 1953, memberikan kuliah pada Cornell University, AS, tentang agama Islam dan pergerakan nasional di Indonesia; 1954, menerima jabatan guru besar Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Yogya, tapi wafat sebelum mulai memberikan kuliah perdananya.

Agus Salim wafat di Jakarta, 4 November 1954 dimakamkan di TMP Kalibata. Untuk mengabadikan namanya, jalan dimana ia tinggal di Jakarta, diberi nama Jl. H. Agus Salim yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Selatan.