ACHMAD BAKRIE

<p style="text-align: justify;">Lahir di Kalianda, Lampung, 11 Juni 1916. Meninggal di Tokyo, 15 Februari 1988. Akrab dipanggil Atuk, adalah sosok yang sukses menepis mitos mandulnya pengusaha pribumi yang jarang berhasil karena jerih payahnya sendiri.</p> <p style="text-align: justify;">Bakat <em>entrepreneurnya</em> sudah terlihat sejak masih kanak-kanak. Saat umurnya masih 10 tahun, ia berjualan roti untuk mengisi waktu libur. Kondisi ini juga ia terapkan pada sang anak, Aburizal Bakrie, yang harus berdagang tas karena uang saku yang diberikannya begitu sedikit. Setamat dari HIS (setingkat sekolah dasar di zaman Belanda), Atuk bekerja sebagai penjaja keliling pada NV Van Gorkom, sebuah perusahaan dagang Belanda (1938). Meski hanya selama dua tahun di perusahaan ini, ia banyak mendapat pengalaman tentang organisasi modern.</p> <p style="text-align: justify;">Setahun setelah menyelesaikan sekolah dagang Hendlesintituut Schoevers, tahun 1940, Atuk membuka CV. Bakrie Brothers di Telukbetung. Perusahaan yang berdagang karet, lada, dan kopi. Di zaman pendudukan Jepang, perusahaannya sempat berganti nama menjadi Jasumi Shokai. Dalam perkembangannya, Bakrie Brothers juga merambah industri pabrik pipa baja dan pabrik kawat. Di paruh akhir dasawarsa 1950an, Atuk mendirikan pabrik pengolahan karet mentah. Aburizal Bakrie adalah anak sulung Atuk yang kemudian meneruskan bisnis Grup Bakrie. Di bawah kepemimpinannya, Bakrie &amp; Brothers kini menjadi perusahaan konglomerat yang bidang usahanya merambah ke berbagai bidang, mulai perkebunan sampai telekomunikasi.</p>