ABDUL KADIR

Salah satu legenda sepakbola nasional. Kelahiran Denpasar (Bali), 27 Desember 1948. Pencinta sepak bola nasional mengenal Kadir,  sebagai seorang pemain kiri luar yang tangguh di timnas periode tahun 1965-1978.
Ia pernah memperkuat timnas semasa dipegang pelatih asal Yugoslavia, Tony Pogacnik, Endang Witarsa, Djamiat Dhalhar, dan pelatih asal Belanda, Wiel Coerver. Ia pernah memperkuat timnas saat menjuarai Piala Raja (1968), Merdeka Games (1969), dan Pesta Sukan Singapura (1972). Kadir juga pernah memperkuat timnas saat menjadi runners up Piala Presiden Korsel (1970-1972).

Abdul Kadir memiliki teknik sepak bola yang sangat tinggi, bahkan tidak kalah dibandingkan pemain dunia saat itu seperti Pele. Maha bintang sepak bola asal Brasil itu pernah bermain di Stadion Dtama Senayan bersama klub Santos, Juni 1972 dan sedang berada di puncak kejayaannya setelah membawa Brasil memenangi Piala Dunia 1970. Sesudah pertandingan persahabatan yang dimenangi Santos 3-2, Pele diundang ke TVRI untuk melakukan akrobat bola. Pemain nasional yang diminta mendampingi Pele adalah Abdul Kadir, yang mendapat julukan "Si Kancil" karena kelincahannya dalam mengolah si kulit bundar di lapangan hijau.

Pemain yang berposisi sebagai kiri luar itu mencapai masa keemasannya pada awal 1970-an bersama rekan-rekan seangkatan seperti Sutjipto Soentoro, Ronny Pati nasarani, Jacob Sihasale, Iswadi Idris, Judo Hadijanto, dan Anwar Ujang. Ia pernah mendapat kesempatan menurunkan keterampilannya kepada pemain muda, ketika bersama dua rekan seangkatannya, M Basri dan Iswadi Idris ditunjuk sebagai pelatih tim nasional. Trio "Basiska" ketika bertanggung jawab membawa tim nasional berlaga di penyisihan Piala Dunia 1990, namun dianggap kurang berhasil. Namun kengototannya di lapangan justru takluk pada tubuhnya sendiri, akibat menderita penyakit gagal ginjal, ia perlu menjalani cuci darah seminggu dua kali di RSCM. Akhirnya meninggal di Jakarta, 4 April 2003 dan meninggalkan seorang istri dan empat anak serta seorang cucu.